Berpacaran dengan perempuan dan sifatnya yang cenderung egois, dan mempunyai rekan kerja Proyek Akhir yang dominan agak malas adalah mungkin cara Tuhan memberikan cermin kehidupan kepadaku.
“Seperti itulah kamu dimata orang-orang sekelilingmu.” Seperti itulah kiranya Tuhan berkata seraya menghadirkan sosok pacar dan sahabat kepadaku.
“Sekarang kamu tahu (dampaknya), selanjutnya kamulah yang menentukan.” lanjutNya (mungkin).
Kita, eummm, mungkin saya saja, cuma perlu mengarahkan idealisme saya ke jalan yang lebih benar. Mari kita mulai.
A bunch of love, a lot of spirit, Gita. (Taken with instagram)
my brother proud (Taken with instagram)
Aku menulis ini sambil mendengarkan Home dari Michael Buble. Tetiba aku merindukan rumah. Bukan rumah lengkap dengan atap dan lantai tempat aku tumbuh bukan juga yang isinya sebuah ruang berisi furnitur dan barang elektronik tempat aku dan keluarga berdiskusi. Aku rindu kamu, aku rindu aku, aku
rindu kita yang dulu lagi. Aku rindu cinta, yang sejak beberapa waktu lalu, sejak awal kita bertemu menjadi rumah untukku. Ke mana rumah itu
sekarang? Atau rumah itu tetap ada tetapi aku yang tak sedang di rumah? Lantas, berada di mana aku saat ini? Kamu di mana?
Banyak yang sudah kita lalui di rumah itu. Tawa, canda, tangis,semua menjadi satu membentuk sebuah bingkai. Aku tak ingin semuanya hanya menjadi bingkai kenangan. Siapa pemilik rumah itu sebenarnya? Aku, atau kamu? Mengapa tak kita miliki bersama saja rumah itu. Kita tinggali bersama. Atau kamu sudah tidak mau lagi tinggal bersamaku di rumah itu? Aku akui, rumah itu tak sempurna selalu ada tetesan-tetesan air mata keluar dari atapnya. Tapi juga banyak suara semilir gelak tawa dari jendelanya yang rapuh sesekali melewati sela antara daun telinga. Namun aku tak ingin meninggalkannya, aku tak akan meninggalkannya tanpa kamu. Aku tak ingin rumah yang baru. Yang aku ingin hanya rumah ini, bersama kamu.
Kamu, kembalilah ke rumah. Tak
inginkah kamu pulang? Aku mau
pulang.
Tulisan ini saya salin dari blog daraprayoga.wordpress.com, kenapa saya salin? karena cukup mewakili isi hati saya. Iya saya kangen kagit.
Memikul mimpi orang lain? Realisasi dari mimpimu sendiri mana win? Kamu hanya menyayangi dia dengan hati tanpa pernah berpikir untuk membiarkan dia menjadi yang terbaik untuk dirinya sendiri.
Ternyata, saya tidak pernah benar-benar meminta padaNya. Dalam setiap shalat pun saya hanya berangan-angan, itu pun kalau khusyuk. Tidak percayakah saya sama Tuhan?